Untitled Document

Rabu, 25 Maret 2015

Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil

Pembinaan dan Pengembangan USaha Kecil (Sentot Harman Glrndoh)
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
1
Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil
Sentot Harman Glendoh
Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen – Universitas Kristen Petra
ABSTRAK
Usaha kecil sebagai kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil memiliki peran sentral
dalam perekonomian Indonesia. Walaupun krisis ekonomi telah memporakporandakan
kehidupan bidang usaha besar dan menengah, ternyata usaha kecil tetap tegar dan
berjalan marak dikawasan kehidupan ekonomi tingkat bawah.
Peran pokok usaha kecil ini adalah: (1) sebagai penyerap tenaga kerja, (2) sebagai
penghasil barang dan jasa pada tingkat harga yang terjangkau bagi kebutuhan rakyat
banyak yang berpenghasilan rendah, (3) sebagai penghasil devisa negara yang
potensial kerena keberhasilannya dalam meproduksi komoditi ekspor non migas.
Mengingat peran usaha kecil tersebut sangat besar andilnya bagi negara dan
masyarakat kecil dilapisan bawah, maka pembinaan dan pengembangannya sangat
perlu diperhatikan.
Kata kunci: pembinaan, pengembangan, usaha kecil.
ABSTRACT
Small business as an economic activity of society on a small scale, has a central
role in the economy of Indonesia. Although the economic crisis has created a great
disturbance in the live of large and middle-size business, apparently small business
continues to function well in the lower levels of the economy.
The main role of small business is: 1) use excess labor; 2) as a producer of goods
and services at reachable prices for the lower economic levels of society; 3) as a
potential producer of foreign exchange because of the success of this type of industry
in producing non-oil commodities for export.
Remembering that the role of small business is large and has great influence on
the lower economic levels of society, it is quite necessary to pay attention to the
development of this sector.
Keywords: guidance, development, small business.
LATAR BELAKANG
Pada tahun 1991 Kopertis Wilayah VII menyelenggarakan Seminar tentang Peranan
Perguruan Tinggi Dalam Mendukung Gerakan Nasional Keterkaitan. Dari makalah yang
dibahas (PT. Semen Gresik, 1991), penulis tertarik untuk mengadopsi sebagai latar
belakang artikel ini, dari pernyataannya bahwa usaha kecil dalam arti luas memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Industri kecil adalah industri berskala kecil, baik dalam ukuran modal, jumlah
produksi maupun tenaga kerjanya.
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 3, No. 1, Maret 2001: 1 - 13
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
2
2. Perolehan modal umumnya berasal dari sumber tidak resmi seperti tabungan keluarga,
pinjaman dari kerabat dan mungkin dari “lintah darat”.
3. Karena skala kecil, maka sifat pengelolaannya terpusat, demikian pula pengambilan,
keputusan tanpa atau dengan sedikit pendelegasian fungsi dalam bidang-bidang
pemasaran, keuangan, produksi dan lain sebagainya.
4. Tenaga kerja yang ada umumnya terdiri dari anggota keluarga atau kerabat dekat,
dengan sifat hubungan kerja yang “informal” dengan kualifikasi teknis yang apa adanya
atau dikembangkan sambil bekerja.
5. Hubungan antara keterampilan teknis dan keahlian dalam pengelolaan usaha industri
kecil ini dengan pendidikan formal yang dimiliki para pekerjanya umumnya lemah.
6. Peralatan yang digunakan adalah sederhana dengan kapasitas output yang rendah
pula.
Dengan ciri-ciri tersebut usaha kecil dapat terhambat perannya yang sangat potensial
dan secara nyata menunjang pembangunan di sektor ekonomi yaitu:
1. Usaha kecil merupakan penyerap tenaga kerja.
2. Usaha kecil merupakan penghasil barang dan jasa pada tingkat harga yang terjangkau
bagi kebutuhan rakyat banyak yang berpenghasilan rendah.
3. Usaha kecil merupakan penghasil devisa negara yang potensial, karena keberhasilannya
dalam memproduksi komoditi non migas.
Memperhatikan ciri-ciri Usaha Kecil dan peranannya yang sangat potensial bagi
pembangunan di sektor ekonomi, maka usaha kecil perlu terus menerus dibina dan
diberdayakan secara berkelanjutan agar dapat lebih berkembang dan maju.
PERMASALAHAN
Permasalahan yang perlu dikaji dalam pembinaan dan pengembangan usaha kecil
dengan ciri-ciri kecil sebagaimana tersebut dalam latar belakang adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan pembinaan dan pengembangan usaha kecil ?
2. Siapa yang melakukan pembinaan terhadap usaha kecil ?
3. Bagaimana caranya pembinaan usaha kecil dilaksanakan ?
4. Adakah tantangan bagi usaha kecil dalam menjalankan usahanya ?
TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan artikel ini adalah:
1. Untuk membantu pembaca dalam memahami Usaha Kecil.
2. Untuk membantu usahawan berskala kecil memahami pembinaan dan pengembangan
usaha kecil dalam kaitannya dengan kegiatan praktis.
3. Untuk ikut mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya tentang usaha kecil sebagai
wujud nyata keterkaitan dunia perguruan tinggi sebagai agen of development dengan
usaha kecil dalam dunia praktisi.
Pembinaan dan Pengembangan USaha Kecil (Sentot Harman Glrndoh)
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
3
PRMBAHASAN
A. Pengertian
1. Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil yang memiliki kriteria
kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagimana diatur dalam Undang-Undang
Republik Indonesia nomor 9 tahun 1995.
Kriteria usaha kecil tersebut adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.1.000.000.000,- (satu milyar
rupiah).
c. Milik Warga Negara Indonesia.
d. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan
usaha menengah atau usaha besar.
e. Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau
badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.
Kriteria tersebut butir a dan b, nilai nominalnya dapat diubah sesuai dengan
perkembangan perekonomian, yang diatur dengan Peraturan pemerintah.
2. Dalam Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 1998 dijelaskan:
a. Pembinaan dan pengembangan adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah,
dunia usaha dan masyarakat melalui pemberian bimbingan dan penyuluhan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi usaha yang
tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha menengah.
b. Pemberdayaan adalah usaha yang dilakukan pemerintah, dunia usaha dan
masyarakat dalam bentuk penumbuhan iklim usaha, pembinaan dan pengembangan
sehingga usaha kecil mampu menumbuhkan dan memperkuat dirinya menjadi usaha
yang tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha menengah.
c. Usaha kecil yang tangguh adalah usaha kecil yang memiliki daya tahan dan daya
saing yang tinggi.
Usaha kecil yang mandiri adalah usaha kecil yang memiliki kemampuan memecahkan
masalah dengan bertumpu pada kepercayaan dan kemampuan sendiri tanpa tergantung
pada pihak lain.
B. Ketentuan-Ketentuan tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun 1998 diatur mengenai:
1. Lingkup, Tata Cara, dan Pelaksanaan Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil dilakukan oleh pemerintah, dunia usaha dan
masyarakat, baik secara sendiri - sendiri maupun bersama-sama, dan dilakukan secara
terarah dan terpadu serta berkesinambungan untuk mewujudkan usaha kecil yang
tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha menengah.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil dilaksanakan dengan memperhatikan
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 3, No. 1, Maret 2001: 1 - 13
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
4
klasifikasi dan tingkat perkembangan usaha kecil. Berdasarkan klasifikasi dan tingkat
perkembangan usaha kecil ditetapkan bobot, intensitas,prioritas dan jangka waktu
pembinaan dan pengembangan usaha kecil.
Ruang lingkup pembinaan dan pengembangan usaha kecil meliputi bidang produksi dan
pengolahan,pemasaran,sumber daya manusia dan teknologi.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil dilakukan melalui langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Identifikasi potensi dan masalah yang dihadapi oleh usaha kecil.
b. Penyiapan program pembinaan dan pengembangan sesuai potensi dan masalah
yang dihadapi oleh usaha kecil.
c. Pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan.
d. Pemantauan dan pengendalian pelaksanaan program pembinaan dan
pengembangan bagi usaha kecil.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil dibidang produksi dan pengolahan,
dilaksanakan dengan:
a. Meningkatkan kemampuan manajemen serta teknis produksi dan pengolahan.
b. Meningkatkan kemampuan rancang bangun dan perekayasaan.
c. Memberikan kemudahan dalam pengadaan sarana dan prasarana produksi dan
pengolahan, bahan baku, bahan penolong dan kemasan.
d. Menyediakan tenaga konsultan profesional di bidang produksi dan pengolahan.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil di bidang pemasaran, dilaksanakan dengan:
a. Melaksanakan penelitian dan pengkajian pemasaran
b. Meningkatkan kemampuan manajemen dan teknik pemasaran
c. Menyediakan sarana serta dukungan promosi dan uji coba pasar
d. Mengembangkan lembaga pemasaran dan jaringan distribusi
e. Memasarkan produk usaha kecil
f. Menyediakan tenaga konsultan profesional di bidang pemasaran.
g. Menyediakan rumah dagang dan promosi usaha kecil.
h. Memberikan peluang pasar.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil di bidang sumber daya manusia,
dilaksanakan dengan:
a. Memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan.
b. Meningkatkan ketrampilan teknis dan manajerial.
c. Membentuk dan mengembangkan lembaga pendidikan, pelatihan dan konsultasi
usaha kecil
d. Menyediakan tenaga penyuluh dan konsultan usaha kecil
e. Menyediakan modul manajemen usaha kecil
f. Menyediakan tempat magang, studi banding, dan konsultasi untuk usaha kecil.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil di bidang teknologi dilaksanakan dengan:
a. Meningkatkan kemampuan di bidang teknologi produksi dan pengendalian mutu
b. Meningkatkan kemampuan di bidang penelitian untuk mengembangkan desain
dan teknologi baru.
c. Memberikan insentif kepada usaha kecil yang menerapkan teknologi baru dan
melestarikan lingkungan hidup.
d. Meningkatkan kerjasama dan alih teknologi
Pembinaan dan Pengembangan USaha Kecil (Sentot Harman Glrndoh)
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
5
e. Meningkatkan kemampuan dalam memenuhi standarisasi teknologi.
f. Menumbuhkan dan mengembangkan lembaga penelitian dan pengem-bangan di
bidang desain dan teknologi bagi usaha kecil.
g. Menyediakan tenaga konsultan profesional di bidang teknologi
h. Memberikan bimbingan dan konsultasi berkenaan dengan hak atas kekayaan
intelektual.
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil yang dilaksanakan oleh dunia usaha dan
masyarakat, berupa:
a. Penyediaan tenaga konsultan profesional, sarana, prasarana, dana, teknologi dan
informasi
b. Bimbingan dan konsultan
c. Pendidikan dan pelatihan
d. Advokasi
e. Pendirian klinik konsultasi bisnis untuk usaha kecil
Dalam rangka mendorong minat dunia usaha dan masyarakat untuk berpartisipasi
membina serta mengembangkan usaha kecil, maka pemerintah perlu
mempertimbangkan kebijakan-kebijakan pajak bagi mereka, seperti perhitungan PKP
(Penghasilan Kena Pajak).
Usaha kecil yang telah dibina dan berkembang menjadi usaha menengah masih dapat
diberikan pembinaan dan pengembangan untuk jangka waktu paling lama tiga tahun.
2. Lembaga Pendukung
Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat menyediakan pembiayaan dan penjaminan
serta bantuan perkuatan bagi usaha kecil untuk kelancaran pelaksanaan pembinaan dan
pengembangan usaha kecil, melalui lembaga pendukung yang terdiri dari:
a. Lembaga pembiayaan
b. Lembaga penjaminan
c. Lembaga pendukung lain
Lembaga pembiayaan memberikan prioritas pelayanan, kemudahan dan akses dalam
memperoleh pendanaan bagi usaha kecil yang dibina dan dikembangkan melalui:
a. Penyediaan pendanaan usaha kecil
b. Penyederhanaan tata cara dalam memperoleh pendanaan dengan memberikan
kemudahan dalam pengajuan permohonan dan kecepatan memperoleh keputusan
c. Pemberian keringanan persyaratan jaminan tambahan
d. Penyebarluasan informasi mengenai kemudahan untuk memperoleh pendanaan bagi
usaha kecil melalui penyuluhan langsung dan media massa yang ada
e. Penyelenggaraan pelatihan membuat rencana usaha dan manajemen keuangan
f. Pemberian keringanan tingkat bunga kredit usaha kecil
g. Bimbingan dan bantuan usaha kecil
h. Loket khusus untuk pelayanan dan informasi kredit usaha kecil
Lembaga penjamin memberikan prioritas pelayanan dan kemudahan dan akses bagi
usaha kecil yang dibina dan dikembangkan untuk memperoleh jaminan pendanaan
melalui:
a. Perluasan fungsi lembaga penjamin yang sudah ada dan atau pembentukan lembaga
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 3, No. 1, Maret 2001: 1 - 13
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
6
penjaminan baru
b. Pembentukan lembaga penjamin ulang untuk menjamin lembaga-lembaga
penjamin yang ada
Lembaga pendukung lain berperan mempersiapkan dan menjembatani pembinaan dan
pengembangan usaha kecil melalui:
a. Penyediaan informasi, bantuan manajemen dan teknologi kepada usaha kecil
b. Pemberian bimbingan dan konsultasi melalui klinik konsultasi bisnis kepada usaha
kecil
c. Pelaksanaan advokasi kepada berbagai pihak untuk kepentingan usaha kecil
d. Pelaksanaan magang, studi banding dan praktek kerja bagi usaha kecil.
C. Tantangan Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil Dalam Menghadapi
Pembangunan Ekonomi
1. Dampak Krisis Ekonomi
Untuk mewujudkan kondisi ekonomi masa depan, kita harus memahami tentang
prospek perekonomian suatu negara. Menurut Tulus Tambunan dalam tulisannya
berjudul Perekonomian Indonesia Menyongsong Abad XXI (1998:28-29) prospek
perekonomian suatu negara ditentukan oleh tiga hal penting yaitu: “Pertama kondisi
ekonomi negara tersebut saat ini apakah ekonominya sedang booming atau slowing
down (atau mengalami resesi) atau stagnasi. Kedua kebijakan-kebijakan pemerintah
yang akan dikeluarkan dan tindakan-tindakan yang akan dilakukan oleh pelaku bisnis
seperti bankir, pedagang, industrial, pengusaha, penanam modal, dan masyarakat.
Dalam kata lain, apa respon pemerintah, pelaku bisnis dan masyarakat dalam
menghadapi kondisi ekonomi saat ini sangat menentukan prospek ekonomi dimasa
mendatang. Ketiga, kondisi ekonomi dunia atau external environment.”
Pada kenyataannya, Indonesia pada saat ini masih belum mampu mengentas sektor
ekonomi bari booming atau slowing down (atau mengalami resesi) atau stagnasi. Tarik
ulur peran ekonomi dengan peran politik masih dirasakan sangat menghambat upaya
mensejahterakan rakyat, disamping itu dibidang keamanan juga belum dapat teratasi.
Aceh masih bergolak, Ambon masih belum dicapai kerukunan dan persatuan, juga Irian
Barat yang dikenal dengan Papua masih memerlukan perhatian serius, disamping itu
permasalahan tentang pengungsi dari Timor Timur, insiden Atambua dan penyelesaian
masalah HAM belum tertangani secara tuntas.
Tentang kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bentuk berbagai penggantian pejabatpejabat
tinggi tingkat menteri dan berbagai eselon dibawahnya membuat perjalanan
pembangunan ekonomi untuk mensejahterakan rakyat mengalami hambatan-hambatan
karena pejabat-pejabat baru juga masih memerlukan penyesuaian dengan jabatannya
yang baru. Sementara itu mundurnya menteri dalam kabinet dan pejabat-pejabat penting,
jelas menunjukkan bahwa laju perekonomian tidak dapat berjalan sehat. Dengan
demikian, disadari atau tidak pembinaan dan perkembangan usaha kecil walaupun
sistemnya telah tertata, praktek pelaksanaannya dilapangan akan terganggu.
Kondisi ekonomi dunia yang mengglobal juga sangat berpengaruh terhadap
perekonomian Indonesia. Barang-barang impor membanjir, sepeda motor dari Cina dan
Pembinaan dan Pengembangan USaha Kecil (Sentot Harman Glrndoh)
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
7
alat-alat elektroniknya tak kalah murah bila dibanding dengan barang-barang impor dari
negara-negara lain. Bahan-bahan pakaian dari tekstil berasal dari India juga hadir
bersamaan dengan tekstil dari Cina (Surabaya Post, 21 September 2000). Bahan
makanan seperti beras, gula dan garam impor juga membanjir. ini semua jelas
berpengaruh pada pertumbuhan industri di dalam negeri.
Pada kondisi ekonomi Indonesia yang belum mapan saat ini, perlu muncul pemimpinpemimpin
di sektor ekonomi yang mampu survival dalam menembus kekalutan dan
ketidakpastian. Tentang kepemimpinan, A.B. Susanto (1999: 1) dalam karya tulisnya
berjudul Survival Manajemen menjelaskan bahwa: Kepemimpinan mengalami
pergeseran dari waktu ke waktu dan bersifat kontekstual yang dilatari oleh
perkembangan sosial, politik dan budaya yang berlaku pada jamannya. Beberapa
perkembangan konsep kepemimpinan yang layak dicatat adalah:
a. Trait Approach
Pendekatan ini menekankan evaluasi dan seleksi kepemimpinan didasarkan pada
karakteristik fisik, mental dan psykologis. Kelemahannya tidak ditemukan
karakteristik spesifik yang membedakan pemimpin efektif dan tidak efektif.
b. Behavioral Theories
Menekankan evaluasi kepemimpinan efektif berdasarkan behavior dan fokus pada
fungsi dan tipe kepemimpinan.
c. Situational Leadership
Pendekatan ini menyatakan tidak ada tipe kepemimpinan yang cocok untuk
diterapkan dalam segala situasi. Perilaku kepemimpinan disesuaikan dengan situasi
dan kondisi yang dihadapi.
Memperhatikan kondisi Indonesia pada bidang ekonomi yang masih terbebani
pengaruh-pengaruh politik dan keamanan pada saat ini maka tipe kepemimpinan yang
cocok diterapkan adalah situational leadership. Tipe kepemimpinan berdasarkan pada
situasi ini perlu ditunjang dengan berbagai hal yang perlu dikembangkan oleh seorang
pemimpin perusahaan, menurut Peter Drucker (1979:26-27) adalah:
a. Seorang pemimpin perusahaan harus dapat mengembangkan obyektifitas
hubungan-hubungan dan perilaku manusia.
b. Seorang pemimpin perusahaan harus dapat mengembangkan kecakapan
berkomunikasi di dalam perusahaannya dan masyarakat diluar perusahaan.
c. Seorang pemimpin perusahaan harus mampu mengembangkan sikap yang tegas
terhadap karyawan sebagai pengikut-pengikutnya.
d. Seorang pemimpin perusahaan harus dapat mengembangkan sikap sadar akan
dirinya sendiri.
e. Seorang pemimpin perusahaan harus dapat mengembangkan kecakapannya mengajar
karyawan agar mengerti tentang berbagai prosedur dan pedoman-pedoman yang
berlaku diperusahaan, memberikan koreksi dan petunjuk-petunjuk pengarahan dalam
pelaksanaan tugas dan kewajibannya.
Lima hal yang harus dikembangkan oleh pemimpin perusahaan tersebut di atas sangat
diperlukan oleh pemimpin bertipe situational dalam melengkapi diri agar dapat survival
di tengah-tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu sekarang ini.
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 3, No. 1, Maret 2001: 1 - 13
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
8
2. Manajemen Survival
Secara harfiah survival berasal dari bahasa Inggris (Salim, 1996:975) artinya adalah
kelangsungan hidup.
Untuk memahami arti dari kelangsungan hidup dapat diilustrasikan ketika kita sedang
menonton sebuah film latihan dari satuan militer yang sedang di lepas dari kapal
angkatan laut atau diterjunkan dari pesawat udara di suatu hutan dalam rangka
menggempur daerah lawan dalam suatu kordinat yang telah ditentukan dengan bekal
logistik perorangan yang terukur jumlahnya dengan pengertian bahwa salah
menggunakan waktu dan gerak dalam operasi tersebut beresiko harus dapat
mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan cara mencari logistik sendiri dengan
memanfaatkan tumbuhan atau buah-buahan apa saja yang bisa dirasakan agar dapat
menjangkau daerah sasaran.
Di bidang bisnis, survival sangat dirasakan, utamanya dalam menghadapi kondisi krisis
ekonomi sebagaimana yang telah terjadi di Indonesia, yang pada saat ini masih belum
dapat diatasi. Semua perusahaan pada saat ini sedang dalam kondisi sulit berkembang,
disamping itu iklim kerja dalam perusahaan juga terusik adanya unjuk rasa karyawan
yang sedang trendi mewujudnyatakan demokrasi dan reformasi.
Menyikapi kondisi krisis ekonomi, pimpinan perusahaan, tidak bisa berpikir masa bodoh
dan menunggu sambil berdoa semoga krisis cepat berakhir. Hanya pimpinan perusahaan
yang mampu memanfaatkan manajemen survival yang akan bisa mengatasi berbagai
kesulitan perusahaan sehingga perusahannya bisa terus berjalan bersamaan dengan
berlangsungnya krisis itu sendiri sampai krisis berhasil diatasi karena para pimpinan
perusahaan mampu membangun manajemen survival.
Manajemen survival berwawasan pada:
a. Pemahaman dan Pemanfaatan Sumber Inovasi
Kondisi lapangan di sektor ekonomi pada saat ini bernuansa situasional yang sangat
beragam dan komplek dengan berbagai perubahan yang sangat cepat, sehingga
keberadaan krisis yang melanda Indonesia terasa sulit untuk diatasi. Nuansa
situasional yang terbebani banyak ragam variabel tak terkontrol akan sangat sulit
dipredeksi oleh seorang pemimpin perusahaan. Dengan demikian seorang pemimpin
harus menyesuaikan dengan kondisi dan situasi dan tidak bisa bersikap kaku
mempedomani asumsi-asumsi teori kepemimpinan yang telah didapatkan di
perguruan tinggi.
Menurut Hiam (1994:8-14), mengadopsi pemikiran Drucker tentang tujuh sumber
inovasi dalam mengelola organisasi yaitu (1) yang tidak terduga, (2) keganjilan, (3)
kebutuhan proses, (4) perubahan terstruktur, (5) demografis, (6) persepsi, (7)
pengetahuan baru.
Tentang sumber inovasi yang tidak terduga, ditegaskan bahwa keberhasilan yang
tidak terduga menunjukkan pergantian atau kecenderungan terbukanya pasar baru.
Keberhasilan tak terduga biasanya diabaikan oleh pimpinan. Keberhasilan tak
terduga justru dianggap sebagai gangguan dan masalah. Contoh beberapa perusahaan
obat-obatan beranggapan bahwa permintaan awal terhadap produk mereka dari
Pembinaan dan Pengembangan USaha Kecil (Sentot Harman Glrndoh)
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
9
dokter hewan merupakan gangguan dan membiarkan dikembangkan oleh perusahaan
lain, yang kemudian menjadi pasar yang sangat penting.
Tentang keganjilan, dinyatakan bahwa bila sesuatu tidak seperti seharusnya, bila
sesuatu tidak masuk akal, biasanya menunjukkan terjadinya perubahan yang penting
yang harus diakui. Keganjilan sering kali dapat dirasakan oleh orang dalam, namun
sering diabaikan karena tidak sesuai dengan pendapat yang diterima oleh dunia.
Tentang kebutuhan proses, dijelaskan bahwa bila terjadi kemacetan atau terdapat
hubungan yang lemah dalam sebuah proses dapat dibenahi dengan inovasi yang
dengan cepat dapat diterima. Pemanfaatan pengetahuan baru dilakukan untuk
mengganti proses yang tidak praktis. Contoh switch board otomatis bel telepon
dikembangkan pada tahun 1910, setelah proyeksinya menunjukkan bahwa pada
tahun 1925 semua wanita dewasa di Amerika harus menjadi pegawai untuk melayani
switch board manual.
Tentang perubahan struktur, ditegaskan bahwa industri yang mantap atau struktur
pasar dapat berubah dengan tiba-tiba dan tidak terduga. Perusahaan perlu dukungan
anggota untuk melakukan inovasi untuk menerima konteks yang baru. Biasanya
perusahaan yang mapan, akan berusaha memperlambat perubahan struktur.
Tentang demografis, dijelaskan bahwa perubahan demografis dalam ukuran dan
struktur populasi seperti peningkatan tingkat pendidikan, usia, atau ukuran dari
sebuah kelompok khusus jelas dapat diperkirakan. Perubahannya cukup bergulir
dengan cepat yang memiliki dampak dramatis terhadap pasar. Biasanya pengusaha
kurang memperhatikan perubahan demografis. Contoh, restoran kurang
mengantisipasi penyediaan makanan dalam memenuhi kebutuhan untuk usia lanjut,
usia pertengahan dan usia muda.
Tentang persepsi, dikatakan bahwa perubahan persepsi terkait dengan cara melihat
diri sendiri dan cara menciptakan kesempatan. Perusahaan mapan kurang peduli
pada perubahan persepsi, karena pergantian persepsi hanya merupakan persaingan
kecil. William Beriton menyelidiki pergantian dalam tahun 1950-an, penyebab lebih
banyak orang Amerika yang menganggap dirinya sebagai kelas menengah dari pada
sebagai kelas pekerja. Penemuan penyelidikannya bahwa anak-anak mereka
mempunyai kesempatan lebih baik dari pada dirinya melalui pendidikan sebuah
pengertian yang menyebabkan mereka merasa harus membeli Encyclopaedia
Britanica dan memasarkannya kepada mereka yang menyatakan dirinya sebagai
kelas mengah.
Tentang pengetahuan baru, dijelaskan bahwa sumber inovasi pengetahuan baru sulit
diatur, tak dapat diramal, mahal dan dipengaruhi sifatnya yang memakan waktu
lama. Pemusatan perhatian terhadap pengetahuan baru pada berbagai bidang, baik
teknis maupun sosial yang akan menyulitkan organisasi memperkenalkan inovasi
yang didasarkan pada pengetahuan dengan berhasil. Pengetahuan baru yang
dikaitkan dengan gagasan cemerlang seperti judi berlawanan dengan aturan yang
sistematis.
b. Pemahaman dan Pemanfaatan Kegiatan Wirausaha
Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, manajemen survival perlu melirik pada
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 3, No. 1, Maret 2001: 1 - 13
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
10
kegiatan wirausaha, sehingga pemimpin perusahaan tidak perlu menjadi patah
semangat karena lahan-lahan baru yang cocok dengan kondisi saat ini sebenarnya
masih banyak yang harus digarap.
Perubahan atau pencarian usaha baru bagi pemimpin yang memiliki gaya manajemen
survival diera perekonomian yang situasional, menuntut seseorang pemimpin
perusahaan menjadi wirausahawan. Yang dimaksud dengan wirausahawan adalah
seseorang yang mengorganisasikan dan mengarahkan usaha baru.
Menurut Rye (1996:3-7) mengindikasikan beberapa kualitas profil wirausahawan
yang berhasil adalah sebagai berikut:
PROFIL SEORANG WIRAUSAHAWAN
KARAKTERISTIK PROFIL CIRI WIRAUSAHAWAN YANG
MENONJOL
Berprestasi Tinggi Mereka lebih suka bekerja dengan para ahli
untuk memperoleh prestasi.
Pengambil Resiko Mereka tidak takut mengambil risiko tetapi
akan menghindari risiko-tinggi bilamana dimungkinkan.
Penyelesaian Masalah Mereka cepat mengenali dan menyelesaikan
masalah yang dapat menghalangi kemampuannya
mencapai tujuan.
Pencari Status Mereka tidak akan memperbolehkan kebutuhan
akan status mengganggu misi bisnisnya.
Tingkat Energi Tinggi Mereka berdedikasi dan bersedia bekerja
dengan jam kerja yang panjang untuk membangun
bisnisnya.
Percaya Diri Mereka mengandalkan tingkat percaya dirinya
yang tinggi dalam mencapai sukses.
Ikatan Emosi Mereka tidak akan memperbolehkan hubungan
emosional mereka mengganggu sukses bisnisnya
Kepuasan Pribadi Mereka menganggap struktur organisasi sebagai
suatu halangan bagi sasaran yang ingin
dicapainya.
c. Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Manajemen survival dalam kondisi ekonomi tidak menentu sekarang ini perlu
fokus pada manajemen sumber daya manusia. Alasannya bahwa dalam kondisi
ekonomi yang situasional yang dipengaruhi peran politik dan keamanan yang tidak
menunjang bagi kemapanan ekonomi terdapat berbagai karyawan perusahaan yang
justru lebih menuntut pemenuhan kebutuhannya misalnya kenaikan upah, kenaikan
Pembinaan dan Pengembangan USaha Kecil (Sentot Harman Glrndoh)
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
11
berbagai tunjangan dan sebagainya, padahal kondisi perusahaan tidak stabil.
Berbagai tuntutan itu diwujudkan dalam bentuk unjuk rasa, demonstrasi, mogok
dan bahkan ada pula yang melakukan berbagai perusakan-perusakan kantor
maupun sarana produksi di perusahaannya.
Oleh sebab itu pimpinan perusahaan dalam rangka manajemen survival perlu selalu
peduli terhadap karyawannya agar dapat diciptakan kondisi iklim kerja yang tenang
dan kompak dengan semboyan bersatu kita teguh bercerai kita jatuh. Untuk dapat
mewujudkan kekompakan dalam perusahaan, pemimpin perusahaan harus selalu
transparan dan memanusiakan karyawan sebagai mitra kerja, karena pada
hakekatnya perusahaan adalah milik bersama pendiri, pemegang saham, komisaris,
direksi dan seluruh karyawan perusahaan. Apabila hal ini disadari, maka semua
pihak akan menunjang kegiatan perusahaan dan rela untuk berbuat positif dalam
arti berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Kondisi ini yang memungkinkan
berjalan survival menuju keberhasilan yang semakin bertambah baik.
Perhatian terhadap karyawan, perlu didukung pemikiran struktur organisasi yang
tepat dengan acuan miskin struktur - kaya fungsi. Mengutamakan kecil indah
mensejahterakan daripada besar penuh masalah. Untuk memahami hal ini, dalam
kondisi situasional yang tidak menentu pengelolaan karyawan harus dilakukan
secara jeli. Hindari sikap tergesa-gesa dalam pemutusan hubungan kerja, karena
pemutusan hubungan kerja walaupun dengan dalih menguntungkan kedua belah
pihak, pada kenyataannya berbuntut negatif. Lebih baik menahan diri tidak
menerima karyawan baru daripada harus melakukan pemutusan kerja.
Pemutusan hubungan kerja harus dilakukan pertimbangan secara matang, dengan
mengidentifikasi berbagai masalah yang berat, menurut Rye (1996:377-379) antara
lain adalah:
1. Penanganan Alkoholisme.
Alkoholisme merupakan masalah yang meluas diantara karyawan yang jarang
diakui oleh banyak bisnis. Salah satu cara yang efektif untuk menangani
problem itu adalah dengan meminta karyawan yang kecanduan untuk berobat ke
suatu pusat perawatan alkoholisme.
2. Penanganan Kemangkiran.
Kemangkiran atau pembolosan merupakan suatu masalah yang serius bagi
perusahaan. Sukar untuk diatasi karena seorang karyawan hanya perlu
mengatakan: “Saya tidak enak badan.”
Untuk menghambat pembolosan, beberapa perusahaan membayar karyawannya
suatu bonus tunai pada akhir tahun untuk setiap cuti sakit yang tidak digunakan.
Pembolosan terus menerus harus diperingatkan secara tertulis dan
didokumentasikan. Jika pembolos membandel, pimpinan perusahaan harus
minta karyawan pembolos tersebut agar meninggalkan perusahaan.
3. Penanganan Pencurian.
Pencurian merupakan masalah serius di perusahaan. Semua orang yang bekerja
di perusahaan dicurigai, kecuali pelakunya tertangkap. Waspadai: (1) alat tulis
kantor dan perlengkapan hilang, (2) persediaan menghilang dari daerah
penyimpanan, (3) uang tunai hilang dari mesin kas, (4) pembukuan tidak
seimbang, (5) dilakukan pembelian untuk produk dan jasa yang tidak pernah
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 3, No. 1, Maret 2001: 1 - 13
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
12
dikantorkan, (6) kas kecil selalu kekurangan uang tunai, (7) karyawan-karyawan
tidak meminta bayaran dari teman-temannya untuk barang yang diterima oleh
teman-teman.
d. Pemberhentian Karyawan.
Pemberhentian seorang karyawan merupakan suatu persoalan yang sulit untuk
dihadapi. Jika seorang karyawan tidak memenuhi harapan, pemberhentiannya
harus dilakukan. Untuk memberhentikan seorang karyawan, perlu terlebih
dahulu konsultasi dengan karyawan tersebut dan memberikan peringatan yang
didokumentasikan.
Panduan untuk memberhentikan seorang karyawan adalah sebagai berikut:
a). Temui karyawan itu dan jelaskan alasan pemberhentian.
b). Bayarlah semua upah dan kompensasi yang menjadi hak karyawan itu
sampai pada soal pemberhentian.
c). Jika Anda meyakini wawancara pemberhentian akan mengakibatkan
suatu konfrontasi, suruhlah orang kedua menemani Anda selama proses
wawancara itu.
d). Siapkan suatu dokumen yang mengikhtiarkan alasan-alasan untuk pemberhentian
karyawan itu. Mintalah karyawan itu menandatangani dokumen
itu, catatlah pada dokumen itu.
e). Setelah melengkapi pertemuan pemberhentian, dokumentasikan secara
tertulis butir-butir penting yang diliput selama pertemuan.
KESIMPULAN
Pembinaan dan pengembangan usaha kecil telah diatur dalam undang-undang Republik
Indonesia nomor 9 tahun 1995 dan ditindak lanjuti dalam Peraturan pemerintah Republik
Indonesia nomor 32 tahun 1998.
Pembinaan dan pengembangan adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah, dunia
usaha dan masyarakat melalui pemberian bimbingan dan bantuan perkuatan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi usaha yang
tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha menengah.
Tantangan pembinaan dan pengembangan usaha kecil dalam pembangunan ekonomi
adalah adanya dampak krisis ekonomi yang diakibatkan oleh tarik ulur peran ekonomi
dengan peran politik yang masih dirasakan sangat menghambat laju perekonomian dalam
upaya mensejahterakan rakyat.
Dalam kondisi krisis ekonomi diperlukan pimpinan perusahaan termasuk usaha kecil
yang mampu melakukan manajemen survival agar usahanya tetap dapat hidup dan semakin
meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Drucker, P. 1979. Manajemen Tugas, Tanggung Jawab dan Praktek. Penerbit PT.
Gramedia, Jakarta.
Pembinaan dan Pengembangan USaha Kecil (Sentot Harman Glrndoh)
Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/management/
13
Hiam, A. 1994. Tools For Executives CEO. Penerbit PT. Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia, Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 1998. Nomor 32. Tentang Pembinaan dan
Pengembangan Usaha Kecil.
PT. Semen Gresik (Persero). 1991. Program Pembinaan dan Pengembangan Industri Kecil
dan Kerajinan. Makalah Seminar Sehari Tentang Peranan Perguruan Tinggi Dalam
Mendukung Gerakan Nasional Keterkaitan di Jawa Timur. Kopertis Wilayah VII. 19
Desember 1991.
Rye, D.E. 1996. Tools For Executives Wirausahawan (Enterpreneur). Buku Pertama dan
Kedua. Edisi Indonesia. Penerbit PT. Prenhalindo, Jakarta.
Salim, P. 1996. The Contemporary English - Indonesia Dictionary. Edisi ketuju. Modern
English Press, Jakarta.
Susanto, A.B. 1999. “Survival Manajemen”. Usahawan. No. 09 TH XXVIII, September. p.
43.
Tulus, T. 1998. Perekonomian Indonesia Menyongsong Abad XXI. Penerbit Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta.
Undang-undang Republik Indonesia. 1995. Nomor 9. Tentang Usaha Kecil.

PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN USAHA KECIL

Small business as an economic activity of society on a small scale, has a central role in the economy of Indonesia. Although the economic crisis has created a great disturbance in the live of large and middle-size business, apparently small business continues to function well in the lower levels of the economy.

The main role of small business is: 1) use excess labor; 2) as a producer of goods and services at reachable prices for the lower economic levels of society; 3) as a potential producer of foreign exchange because of the success of this type of industry in producing non-oil commodities for export.
Remembering that the role of small business is large and has great influence on the lower economic levels of society, it is quite necessary to pay attention to the development of this sector.


Abstract in Bahasa Indonesia :

Usaha kecil sebagai kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil memiliki peran sentral dalam perekonomian Indonesia. Walaupun krisis ekonomi telah memporakporandakan kehidupan bidang usaha besar dan menengah, ternyata usaha kecil tetap tegar dan berjalan marak dikawasan kehidupan ekonomi tingkat bawah.
Peran pokok usaha kecil ini adalah: 
(1) sebagai penyerap tenaga kerja, 
(2) sebagai penghasil barang dan jasa pada tingkat harga yang terjangkau bagi kebutuhan rakyat banyak yang        berpenghasilan rendah, 
(3) sebagai penghasil devisa negara yang potensial kerena keberhasilannya dalam meproduksi komoditi ekspor non migas.

Mengingat peran usaha kecil tersebut sangat besar andilnya bagi negara dan masyarakat kecil dilapisan bawah, maka pembinaan dan pengembangannya sangat perlu diperhatikan.

Peran Wirausaha Dalam Perekonomian Nasional

Peran Wirausaha Dalam Perekonomian Nasional

Seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.
Menurunnya tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional. Selain itu, berdampak pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh karena tingginya pengangguran.
Seorang wirausaha memiliki peran sangat besar dalam melakukan wirausaha. Peran wirausaha dalam perekonomian suatu negara adalah:
·         Menciptakan lapangan kerja
·         Mengurangi pengangguran
·         Meningkatkan pendapatan masyarakat
·         Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
·         Meningkatkan produktivitas nasional


Faktor Kegagalan Dalam Wirausaha

Faktor Kegagalan Dalam Wirausaha

Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003 : 44-45) ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:
·         Tidak kompeten dalam manajerial.
Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.
·         Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
·         Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan memelihara aliran kas menyebabkan operasional perusahan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
·         Gagal dalam perencanaan.
Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
·         Lokasi yang kurang memadai.
Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
·         Kurangnya pengawasan peralatan.
Pengawasan erat berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang pengawasan mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.
·         Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha.
Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.
·         Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.

Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.

Sikap wirausaha

Sikap wirausaha

Dari daftar ciri dan sifat watak seorang wirausahawan di atas, dapat kita identifikasi sikap seorang wirausahawan yang dapat diangkat dari kegiatannya sehari-hari, sebagai berikut:
·         Disiplin
Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti dari kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan komitmen wirausahawan terhadap tugas dan pekerjaannya. Ketepatan yang dimaksud bersifat menyeluruh, yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja dan sebagainya. Ketepatan terhadap waktu, dapat dibina dalam diri seseorang dengan berusaha menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang direncanakan. Sifat sering menunda pekerjaan dengan berbagai macam alasan, adalah kendala yang dapat menghambat seorang wirausahawan meraih keberhasilan. Kedisiplinan terhadap komitmen akan kualitas pekerjaan dapat dibina dengan ketaatan wirausahawan akan komitmen tersebut.]Wirausahawan harus taat azas. Hal tersebut akan dapat tercapai jika wirausahawan memiliki kedisiplinan yang tinggi terhadap sistem kerja yang telah ditetapkan. Ketaatan wirausahawan akan kesepakatan-kesepakatan yang dibuatnya adalah contoh dari kedisiplinan akan kualitas pekerjaan dan sistem kerja.
·         Komitmen Tinggi
Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap dirinya sendiri dapat dibuat dengan identifikasi cita-cita, harapan dan target-target yang direncanakan dalam hidupnya. Sedangkan contoh komitmen wirausahawan terhadap orang lain terutama konsumennya adalah pelayanan prima yang berorientasi pada kepuasan konsumen, kualitas produk yang sesuai dengan harga produk yang ditawarkan, penyelesaian bagi masalah konsumen, dan sebagainya.Seorang wirausahawan yang teguh menjaga komitmennya terhadapkonsumen, akan memiliki nama baik di mata konsumen yang akhirnya wirausahawan tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen, dengan dampak pembelian terus meningkat sehingga pada akhirnya tercapai target perusahaan yaitu memperoleh laba yang diharapkan.
·         Jujur
Kejujuran merupakan landasan moral yang kadang-kadang dilupakan oleh seorang wirausahawan. Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks.Kejujuran mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang ditawarkan, kejujuran mengenai promosi yang dilakukan, kejujuran mengenai pelayanan purnajual yang dijanjikan dan kejujuran mengenai segala kegiatan yang terkait dengan penjualan produk yang dilakukan olehwirausahawan.
·         Kreatif dan Inovatif
Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Daya kreativitas tersebut sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar. Gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru seringkali ide-ide jenius yangmemberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil.
·         Mandiri
Seseorang dikatakan “mandiri” apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalammengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain. Kemandirian merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan.Pada prinsipnya seorang wirausahawan harus memiliki sikap mandiri dalam memenuhi kegiatan usahanya.
·         Realistis

Seseorang dikatakan realistis bila orang tersebut mampu menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/ perbuatannya.Banyak seorang calon wirausahawan yang berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena wirausahawan tersebut tidak realistis, obyektif dan rasional dalam pengambilan keputusan bisnisnya.Karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam melakukan seleksi terhadap masukan-masukan/ sumbang saran yang ada keterkaitan erat dengan tingkat keberhasilan usaha yang sedang dirintis.

Tahap-tahap kewirausahaan

Tahap-tahap kewirausahaan

Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha:

Tahap memulai

Tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan ‘’franchising’’ Tahap ini juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian,industri, atau jasa

Tahap melaksanakan usaha

Dalam tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek: pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi

Tahap mempertahankan usaha

Tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
·         Tahap mengembangkan usaha

Tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.

Ciri-ciri dan Sifat kewirausahaan

Untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka setiap orang memerlukan ciri-ciri dan juga memiliki sifat-sifat dalam kewirausahaan. 
Ciri-ciri seorang wirausaha adalah:
·         Percaya diri
·         Berorientasikan tugas dan hasil
·         Berani mengambil risiko
·         Kepemimpinan
·         Keorisinilan
·         Berorientasi ke masa depan
·         Jujur dan tekun
Sifat-sifat seorang wirausaha adalah:
·         Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
·         Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.
·         Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
·         Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
·         Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
·         Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.

·         Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.

KEWIRAUSAHAAN ?

Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.

Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu,Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi sedangkan menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebutwirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.